728x90 AdSpace

Latest News
Thursday, August 10, 2017

Agar Anak Mandiri di Sekolah



anak mandiri
Banyak dari kita yang harus menghadapi tangisan anak saat pertama masuk sekolah. Pasalnya anak tidak mau orangtua meninggalkannya sendiri di sekolah, meskipun banyak teman dan guru yang bisa diajak bermain. Namun memang orangtua tidak akan pernah tergantikan jadi sudah semestinya kita memaklumi hal ini. Pada umumnya para ibu yang mengantarkan anak ke sekolah, dan sudah menjadi pemandangan yang umum ketika ibu-ibu berkerumun di depan sekolah hingga pelajaran usai. Tidak masalah jika ibu memang mengalokasikan waktu untuk menunggui putra-putrinya selama belajar di sekolah. Namun, bagaimana jika ibu harus bekerja atau memiliki tumpukan pekerjaan di rumah?

Ketika Ayah-Bunda memiliki banyak pekerjaan, meninggalkan anak selama belajar di sekolah memang menjadi pilihan. Perlu diperhatikan bahwa sebisa mungkin memberi tahu anak bahwa kita akan pergi dan bukan mengendap-endap pergi. Apabila sejak awal Ayah-Bunda mengatakan akan tetap tinggal selama anak belajar, maka Ayah-Bunda harus benar-benar tetap tinggal. Sebaliknya, jika Ayah-Bunda memiliki niat untuk meninggalkan anak untuk sementara waktu, maka sejak dari berangkat sekolah ide tersebut harus sudah disampaikan pada anak. Hal ini bertujuan agar anak mempersiapkan mental, tidak larut dalam kekecewaan dan tidak merasa dibohongi. 

Kenyataannya, masih banyak orangtua yang justru meninggalkan anak ketika bermain setelah sebelumnya mengatakan, ”Sana bermain dengan temanmu, Ibu menunggu di sini.” Jika hal tersebut terjadi anak akan merasa dikhianati dan akan berkembang perasaan insecure atau perasaan tidak nyaman. Selain itu kepercayaan anak terhadap ibu juga akan berkurang sehingga di kemudian hari anak akan merasa was-was dan curiga jika ibu akan meninggalkannya. Berbeda apabila sejak awal Ayah-Bunda secara terus terang mengatakan pada anak untuk pergi sementara. Mungkin anak akan menangis, namun hal ini lebih baik karena anak telah mendapatkan informasi tersebut sebelumnya sehingga kepercayaan anak pada Ayah-Bunda tidak luntur. Dengan demikian anak akan terbiasa untuk belajar mandiri selama di sekolah dan ini merupakan salah satu cara mendidik anak agar rajin belajar.  

Berikut ini adalah salah satu cara untuk mendorong anak lebih mandiri berada di sekolah melalui beberapa tahap. Kemandirian dalam hal ini lebih kepada artian bahwa anak berani berada di sekolah bersama teman-teman dan guru sehingga orangtua bisa melakukan aktivitas lain atau bekerja. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

Motivasi anak
Setiap hari, sampaikan pada anak untuk berani bermain bersama teman dan gurunya. Sampaikan juga bahwa Ayah-Bunda memiliki aktivitas dan pekerjaan lain yang harus diselesaikan dan akan menjemput anak setelah pulang sekolah. Meskipun anak belum mau dilepas sendiri di sekolah, tetap sampaikan hal ini agar anak memahami betul apa maksud Ayah-Bunda saat melihat teman lain yang sudah berani ditinggal oleh orangtuanya.
Anak memiliki keberanian yang berbeda-beda. Ada anak yang cepat beradaptasi, ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama. Tidak masalah untuk selalu menemani saat anak beradaptasi selama kekhawatiran anak masih wajar. Tahapan di bawah ini tentu saja menyesuaikan kebutuhan anak. 

      Temani dalam radius zona nyamannya
Bagi anak PAUD atau TK zona nyaman anak adalah jarak dimana mereka dapat menyentuh Ayah-Ibu dengan cepat. Hal ini karena anak masih merasa asing dengan lingkungan baru sehingga mereka membutuhkan perlindungan dan perasaan aman dengan kehadiran orangtua. Jarak dalam radius zona nyaman dapat dilakukan selama anak membangun keberaniannya. Beberapa anak hanya butuh 1 hari ketika orangtua benar-benar dekat dengan tempat duduknya, beberapa anak butuh hingga 1 minggu. Motivasi anak selalu atau berikan reward/hadiah kecil ketika anak menunjukkan kemajuan atau keberaniannya. 

        Awasi dalam radius yang dapat terlihat anak
Anak yang sudah mau bermain dengan teman-temannya berarti menunjukkan dia mulai merasa senang dengan sekitarnya. Ayah-Bunda dapat mengawasi anak dari jarak yang lebih jauh. Jika sebelumnya Ayah-Bunda duduk tepat di belakang anak, saat ini Ayah-Bunda dapat menambah jaraknya, misal duduk di dekat pintu atau di pojok belakang. Dalam jarak ini, ketika anak menyadari Ayah-Bunda nya menjauh, dia dapat mendapati orangtuanya masih dekat dengannya dan memperhatikannya. 

Tunggu di luar kelas atau dari tempat yang tidak terlihat anak
Ayah-Bunda harus memperhatikan apakah selama bermain dengan temannya, anak sering menoleh untuk melihat keberadaan orangtuanya? Jika anak sudah jarang mencari, mungkin saatnya Ayah-Bunda mulai keluar dari ruang kelas dan menunggu anak dari tempat yang tidak terlihat. Jika sewaktu-waktu anak membutuhkan bantuan, biarkan ia mencari solusi sendiri atau meminta bantuan guru atau temannya. Menunggu anak dari tempat yang tidak terlihat akan memberi kesempatan pada anak untuk melihat bahwa dia sama dengan teman-temannya dan mereka bisa bekerja sama.
 

      Titipkan anak pada guru
Ketika anak sudah sangat jarang menengok apakah Ayah-Bunda masih di sekitar, sudah saatnya ia sepenuhnya mandiri untuk berada di sekolah bersama teman dan gurunya. Titipkan dan percayakan anak pada guru, ikhlaskan anak untuk belajar mandiri dan buang jauh-jauh perasaan khawatir dan was-was. Ayah-Bunda dapat meninggalkan nomor kontak jika hal mendesak yang harus disampaikan. Mungkin anak akan menangis, namun anak akan teralihkan perhatiannya dengan permainan dan pelajaran yang menarik. Dan tentu, sebelumnya Ayah-Bunda telah berjanji pada anak untuk sesegera mungkin menjemput sepulang sekolah. Bila perlu, berikan rewad/hadiah kecil yang membuat dia semakin termotivasi.

Semoga berhasil mendorong putra-putrinya menjadi anak yang mandiri, Ayah-Bunda!
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Agar Anak Mandiri di Sekolah Rating: 5 Reviewed By: Waktu Luang