Perlukah Pendidikan untuk Anak Usia Dini ?



Di musim pendaftaran siswa baru seperti saat ini, biasanya ada beberapa topik yang menjadi perdebatan atau sering diperbincangkan di media sosial. Salah satu diantaranya adalah apakah orangtua perlu menyekolahkan anaknya yang masih berusia di bawah lima tahun. Pendapat yang munculpun beragam, ada orangtua yang memutuskan untuk mendaftarkan anak balitanya di sekolah, ada pula orangtua yang memutuskan untuk menjadi pendamping belajar bagi anak hingga usianya dirasa lebih besar untuk duduk di bangku sekolah. Kedua pendapat ini tentu saja tidak ada yang salah selama didasari oleh pertimbangan-pertimbangan yang rasional. 

Telah kita ketahui bersama bahwa usia nol hingga lima tahun adalah masa-masa golden age. Di usia ini anak mengalami perkembangan yang pesat baik fisik maupun otaknya. Anak mampu menyerap informasi secara cepat dengan mengamati dan menirukan apa yang dilihatnya. Karena golden age ini sangat penting berkaitan dengan perkembangan anak secara optimal, orangtua dianjurkan untuk memberikan stimulasi yang optimal pula pada anak. Asupan makanan bergizi, aktivitas yang merangsang kecerdasan dan penanaman kebiasaan-kebiasaan terpuji sudah sepatutnya dilakukan oleh orangtua demi masa depan anak yang lebih baik. Berlandaskan fakta tersebut maka berbagai sekolah yang menawarkan pendidikan untuk anak usia dini mulai bermunculan. 

Singkatnya, pendidikan untuk anak usia dini memang sangat penting terlepas dari pro-kontra apakah pendidikan tersebut diberikan di bangku sekolah maupun di rumah sendiri dengan pendampingan orangtua. Masing-masing pilihan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jika Ayah-Bunda saat ini masih berdiskusi mengenai hal ini, mungkin penjabaran berikut dapat menjadi pertimbangan 

Belajar di Pos PAUD
Kita sepakat bahwa semua anak senang bermain. Terlebih bagi anak usia di bawah 5 tahun, belum ada kewajiban bagi mereka untuk dapat membaca. Pun jika anak dengan sendirinya atau berdasarkan hobinya dia mampu membaca di usia dini tersebut maka hal itu patut disyukuri dan diapresiasi. Orangtua diharapkan lebih bersabar hingga usia anak lebih matang untuk diajarkan membaca dan bukan memaksanya. Dikhawatirkan justru anak akan bosan bahkan trauma terhadap kegiatan membaca jika ada paksaan dari orangtuanya. Biarlah anak bermain secara alami. Belajar bagaimana bersosialisasi dengan teman, berbagi, meminta maaf, memaafkan, menolong, sopan santun, budaya mengantri, adalah hal yang lebih utama untuk diajarkan pada usia ini daripada membaca alfabet.  

Kelebihan
Yang perlu disiasati
  • Memiliki banyak teman sebaya
  • Tersedia mainan edukatif sebagai saran stimulasi kreativitas anak
  •  Anak belajar disiplin berkaitan dengan jam sekolah dan agenda harian
  • Orangtua dapat melakukan aktivitas lain ketika anak belajar
  • Mengurangi frekuensi anak melihat TV atau gadget
  • Anak belajar berbagi dan bermain bersama teman lain
  • Biaya sesuai dengan kualitas dan fasilitas sekolah
  • Biasanya anak memerlukan penyesuaian diri saat awal sekolah seperti menangis atau tidak mau ditinggal oleh orangtua
  • Anak mudah meniru berbagai perilaku seperti perilaku teman-temannya. Perlu pengarahan ketika anak menirukan perilaku yang tidak baik.

Belajar di Rumah
Pada umumnya pilihan ini yang paling umum di masyarakat Indonesia. Selain mempertimbangkan usia anak yang masih terlalu kecil, belajar di rumah juga tidak memerlukan biaya ekstra setiap bulannya. Bagi ibu rumah tangga yang berkarya di rumah justru adanya anak menjadi teman sehingga rumah tidak terasa sepi dan membosankan. Adapaun kelebihan dan hal yang perlu diperhatikan ketika anak belajar di rumah adalah sebagai berikut

 Kelebihan
Yang perlu disiasati
  • Lebih banyak berinteraksi dengan orangtua/ pengasuh utama sehingga dapat membangun kelekatan anak
  • Memicu kreativitas orangtua untuk memberikan aktivitas yang menstimulasi anak
  •  Anak dalam pengawasan penuh orangtua
  • Pegaruh utama adalah orangtua
  • Menghemat pengeluaran bulanan
  • Anak lebih mudah mengakses TV dan gadget
  • Aktivitas akan sangat fleksibel tergantung mood orangtua atau anak
  • Perlu membereskan lantai/rumah setelah melakukan aktivitas yang membutuhkan banyak peralatan
  • Anak lebih banyak di rumah sehingga perlu bantuan orangtua untuk mengajak anak bersosialisasi

Bagaimana Ayah-Bunda? Semoga poin-poin di atas dapat membantu ya. Apapun keputusan Ayah-Bunda, jika hal tersebut telah dipertimbangkan masak-masak dan disepakati bersama, insya Allah itu adalah yang terbaik. Tetap semangat ya Ayah-Bunda! Semoga sukses selalu :)