Cara Menulis Rangkaian Berita

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
Sahabat, pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai cara Menulis urutan berita.
Berita adakah sebuah tulisan yang menyatakan kejadian sebuah peristiwa ataupun kegiatan yang nyata adanya, tidak ada unsur direkayasa atau dibuat buat, sehingga ketika seseorang yang membacanya dapat langsung memastikan keaslian atau kebenaran dari unsur yang ada pada berita tersebut.
Unsur-unsur yang harus ada di dalam berita ada 5W+1H.
1. What, what yang berarti apa ini menunjukkan apa kejadian yang sedang terjadi, atau apa kegiatan yang telah terjadi. Misalnya kejadian kecelakaan di belakang Makam Pahlawan, itu adalah What yang ada di dalam berita, dan harus ada.
2. Who, siapa. Yang menunjukkan objek dari kejadian atau kegiatan, Orang yang bersangkutan, sehingga ketika membaca berita, pembaca tidak lagi perlu menanyakan siapa yang sedang kecelakaan, atau siapa yang sedang melaksanakan kegiatan.
Contoh : korban yang mengalami luka ringan bernama Fadhil. Atau Kegiatan ini disponsori oleh Berbagai macam instansi dan pribadi, salah satu yang mensponsori kegiatan ini dengan pribadi ialah Bapak Sarwo.
3. When, when menunjukkan kapan peristiwa, kejadian atau kegiatan terjadi. Yang jelas ini menunjukkan keterangan waktu.
Contoh : Senin(12/09/2017) dini hari, telah terjadi kebakaran hutan.
4. Where. Ini berkaitan dengan Tempat. Yah tempat yang menjadi sasaran kegiatan, peristiwa atau kejadian.
5. Why. Why atau mengapa, menggambarkan mengapa bisa kejadian atau peristiwa, atau kegiatan terjadi, atau dapat dikatakan sebagai latar belakang nya, meski itu juga kurang tepat, tetapi untuk lebih simpel nya ya begitulah.
Yang menjadi sebab kejadian, harus dijelaskan Dengan jelas dan detail sahabat, agar pembaca tidak merasa kesulitan dalam memahami dan menelaah berita yang kita sajikan.
6. Yang terakhir ialah How, bagaimana. Yang terakhir ini menggambarkan mengenai Bagaimana, atau situasi dan kondisi yang terjadi pada kejadian, peristiwa atau kegiatan.
Contoh : Acara yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan apapun.
Sebenarnya, Tidak ada aturan baku dalam sistematika penulisan ini, tidak ada yang mengatur bahwa What harus berada di paling atas atau awal, How harus ada di paling bawah atau akhir. Tidak ada sahabat, hanya saja dengan melihat kebanyakan penulisan berita yang didominasi dengan urutan tersebut, sehingga alangkah lebih baiknya kita mengikuti.
Ketika menulis berita, Saya mendapat masukan dari dosen saya, bahwa menulis berita itu cukup dengan tiga paragraf, yang berisi minimal tiga ratus kata maksimal hingga Lima ratusan kata. Setiap paragraf berisi minimal tiga Kalimat, dengan kalimat yang tidak panjang panjang.
Bagian paragraf satu, biasanya diisi dengan Pendahuluan, yah ada pendahuluan juga dalam berita, hanya saja tentu berbeda dengan Pendahuluan yang terdapat pada makalah, pada buku atau pada Proposal dan sejenisnya ya.
Bagian pendahuluan ini, berisi mengenai What, dan When.
Yah berisi tentang apa kejadian atau kegiatan yang tekah terjadi. Kalau beritanya adalah berita kejadian atau peristiwa, maka biasanya pengantar nya tentu sangat sedikit, hanya saja, jika beritanya mengenai sebuah kegiatan acara, tentu akan lebih panjang pengantarnya.
Paragraf ke dua dan ke tiga berisi kegiatan dan Acara.
Yah, kedua hal ini tentu akan memuat When, Where , dan lain sebagainya.
Mudah bukan?
Oh iya, sahabat, ketika menulis sesuatu, tulislah dengan sebenar-benarnya, seauai dengan realita yang ada, jangan melebih-lebihkan, dan jangan pula mengurangi. Sahabat perlu mengetahui, bahwa ketika sahabat akan menulis berita, yang melalui proses wawancara korban, jangan setiap apa yang dikatakan nya sahabat tulisan semua, itu tidak begitu penting, sahabat boleh menyampaikan atau menuliskan nya dwnagn bahasa sahabat sendiri, yang terpenting ialah apa yang sahabat tulis tidak keluar dari makna yang sesungguhnya, atau kata yang telah disampaikan oleh narasumber.
Sebagai contoh :
DPM FAI - Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Agama Islam ( DPM FAI )  atau yang biasa disingkat dengan DPM FAI merupakan Organisasi internal yang ada di FAI.
DPM,  baik di tingkat Fakultas maupun tingkat Universitas memiliki jalur kerja pada bidang Legislatif atau legislasi. Kinerja dari DPM memang tidak terlihat seperti halnya Organisasi yang bergerak di bidang Eksekutif, namun apa yang sedang diperjuangkan dan digunakan oleh seluruh elemen Organisasi Mahasiswa ( ORMAWA ) saat ini adalah Hasil buah pikir DPM.
DPM tidak memiliki program kerja ( PRODI ) yang teratur seperti halnya Organisasi yang bergerak di bidang Eksekutif. Biasanya, DPM ini hanya mengurus segala hal yang berkaitan dengan hukum dan undang-undang yang berlaku.
Pada malam Sabtu, ( 16/09/2017 ) pukul 20:00, sebagian besar pengurus DPM FAI melakukan sebuah rapat lanjutan setelah tiga bulan vakum.
Kevakuman yang ada di DPM sebenarnya bukanlah hal yang diinginkan oleh pengurus, akan tetapi dikarenakan memang banyaknya kendala yang membuat pengurus sulit untuk bertemu, ditambah lagi dengan Kuliah Keha Nyata ( KKN ) yang menjadikan seluruh pengurus kesulitan mencari waktu untuk melakukan rapat kembali.
Setelah tiga bulan vakum, baru malam Sabtu itu bisa diadakan rapat kembali yang hanya bisa dihadiri oleh enam pengurus, yakni Ketua, sekretaris, Komisi a, komiisi b . Rapat malam sabtu itu membahas undang-undang dan mengenai kepengurusan yang sedang berjalan.
" Banyak permintaan dari seluruh ORMAWA agar kita mengadakan satu rapat rutin yang akan dihadiri oleh seluruh pengurus ORMAWA yang ada, namun sebelum kita melangkah ke sana, alangkah lebih baiknya jika kita mensolidkan dahulu ke pengurusan kita, jika kita sudah baik, barulah kita akan merangkul mereka, jangan sampai kita memperbaiki seluruh ORMAWA sementara itu kita sendiri secara internal nya masih kacau, " , himbau Ketua DPM saat menutup rapat malam itu.
Demikian sahabat, semoga bermanfaat. Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.