728x90 AdSpace

Latest News
Friday, January 19, 2018

Cara Meneliti Sanad (3)


Pada artikel sebelumnya telah dibahas sedikit mengenai kualitas seorang perawi yang kualitasnya baik, yakni gabungan antara adil dan dhabit maka jadilah tsiqqah.

Maka pada kesempatan kali ini, akan dibahas mengenai kebalikan daripada tsiqqah, atau penilain terhadap seorang rawi yang kurang  baik ataupun tidak baik. 
Penilaian ini akan dinamakan dengan menjarh.


Kata Jarh, merupakan bentuk masdhar dari kata Jarh Yajrih (ha yang digunakan adalah ha tipis atau ha kecil), yang berarti melukai. Ilmu jarh ialah ilmu yang digunakan untuk mengetahui sifat negative seorang perawi hadis yang akan berpengaruh terhadap kualitas hadis yang diriwayatkan.

Dengan Jarh ini, keburukan atau kecacatan seorang perawi akan diungkapkan. Dengan begitu, maka akan diketahui apakah sebuah hadis yang diriwayatkan oleh perawi tersebut cacat atau tidak.

Tentu akan timbul pertanyaan mengenai perbuatan apa yang membuat seorang perawi dinilai sebagai perawi yang cacat. 
Maka menurut para ulama, ada dua pembagian umum yang perlu diketahui. Yakni cacat secara keadilan dan secara kedhabitan, yang masing masing dari cacat tersebut memiliki bagian masing masing.


Seorang perawi yang cacat dalam bagian keadilan ialah, bedusta dengan mangatasnamakan Nabi, tertuduh berdusta, fasik dalam perbuatan atau dalam ucapan, tetapi tidak sampai kufur, pribadi perawi yang tidak dikenal, dan perawi penganut bid’ah dhalalah atau menyalahi syari’at.

Sementara seorang perawi yang cacat secara dhabit ialah, lemah daya hafalnya, banyak keliruannya, banyak lupanya, pelupa, bimbang dengan banyak prasangka, dan bertentangan dengan perawi yang dapat dipercayai.

Dengan mengetahui bagian bagian kecacatan seorang perawi tersebut, maka akan sangat mudah menemukan dan menilai keadaan seorang perawi. 

Ketika meneliti sanad ini, maka akan ditemukan banyak ungkapan ungkapan penilaian seorang perawi oleh para ulama, oleh karenanya jarh ini memiliki enam tingkatan, mulai dari tingkatan yang paling parah atau paling jelek, hingga yang paling ringan kejelekannya.


Agar meneliti sanad tidak begitu sulit, maka perlu diketahui terlebih dahulu istilah istilah yang digunakan di dalam kitab rawi atau rijal, agar mendeteksi keadilan dan kedhabitannya tidak sulit. Diantaranya ialah :
Yang Paling jelek, ialah kata اكذب الناس 
كذاب 
متروك
ضعيف جدا
منكر الحديث
ضعف 
Perawi yang berada pada tingkat nomor satu hingga nomor empat tidak bisa diterima riwayatnya, namun mengenai perawi yang mendapat penilaian nomor lima hingga enam, para ulama berpendapat bahwa hadis yang diriwayatkan oleh perawi tersebut boleh dibandingkan dengan hadis hadis lainnya.


Ungkapan mengenai penilaian negative dari tiap tiap nomor tidak hanya itu saja, akan tetapi masih ada ungkapan lainnya yang semakna, namun yang  biasanya banyak digunakan oleh para ulama dalam menjarh adalah ungkapan di atas. 

Setelah mengetahui ungkapan ungkapan penilaian seorang perawi hadis, maka akan diadakan sebuah penelitian dengan menggunakan kitab kitab hadis yang sudah ditulis oleh para ulama terdahulu. 


Mengenai ungkapan pendapat yang memuji seorang perawi masih ada beberapa lagi selain tsiqqah. Pembagiannya juga ada enam, sama dengan pembagian jarh ini.

Oleh karena itu, untuk mempermudah penelitian pada kitab rijalnya, maka perlu diketahui terlebih dahulu dasar dasarnya, agar tidak kebingungan dan mengalami kesulitan ketika meneliti kualitas seorang perawi hadis dikarenakan banyaknya ungkapan ungkapan yang tidak dimengerti maksudnya.

Referensi : ulumul hadis praktis dan mudah, Muhammad Gufran dan Rahmawati.
Ulumul hadis studi kompeksitas hadis nabi, Mahmud Thahan.
37 Masalah popular, Abdul Shamad.

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Cara Meneliti Sanad (3) Rating: 5 Reviewed By: Anita aa