728x90 AdSpace

Latest News
Friday, January 19, 2018

Cara Meneliti Sanad Hadis (2)


Hadis yang diriwayatkan oleh Rasulullah sampai kepada manusia, sejak zaman dahulu hingga kini merupakan sebuah rangkaian yang diperankan oleh para perawi.
Maka, para perawi tersebutlah yang menjadi kajian pusat paling penting dalam meneliti hadis, baik dari segi keshaihhan hingga ketidakshahihannya. 

Oleh karena itu, para ulama sangat memperhatikan keberadaan para perawi ini, Bahkan para ulama juga menetapkan beberapa kriteria perawi yang dapat diterima.


Persyaratan yang ditetapkan oleh para ulama merupakan persyaratan yang bersifat mendalam dan juga tegas, yang menunjukkan kualitas dan keberadaan jalan yang ditempuh oleh para perawi.

Hal ini menjadi sangat mendunia, dikarenakan belum ada satu agama pun yang menyampaikan sebuah kabar sampai semendalam penyampaian hadis.

Adapun cara untuk meneliti seorang perawi hadis ialah dengan mengetahui dan memahami syarat syarat yang telah ditentukan oleh para ulama. 

Setelah memahami dan mnegetahui syarat syarat yang sudah ditentukan, barulah bisa dilakukan penelitian dengan menggunakan kitab maupun software hadis.
Adapun syarat syarat para perawi yang sudah disepakati oleh para ulama ialah sebagai berikut:

Ke adilan seorang perawi
Maksudnya ialah, seorang rawi tersebut adalah orang islam, berakal sehat, baligh, selamat dari kefasikan dan selamat dari norma norma kesopanan.
Hal ini berkaitan dengan unsur spiritual seorang perawi.


Bagaimana menentukan seorang perawi adil? Hal ini dapat dilihat dari adanya dua orang atau lebih yang menentukan atau salah satunya menentukan atau menetapkan bahwa perawi tersebut adalah “adil”atau, seseorang yang pemberitaan mengenai kemasyhuran, maka apabila ada seorang perawi yang terkenal dengan ke adilannya, maka tidakdak perlu lagi dicari pendapat penetapan mengenai keadilannya.
Kemasyhuran tentang keadilannya sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan sosok perawi tersebut. 

Misalnya saja ialah Imam yang empat dan dua sufyan dan Auza’I dan lainnya.


Dhabit. 
Maksud dhabit di sini ialah rawi yang tidak menyalahi orang orang kepercayaan, tidak jelek hafalannya, tidak banyak salah, tidak pelupa dan tidak banyak prasangkaannya.


Para ulama juga sepakat, bahwa apabila seorang perawi adalah orang yang adil lagi dhabit, maka ia akan dikenal dengan tsiqqah. Maka dari itu, ketika membuka kitab mengenai perawi, akan terdapat ungkapan Tsiqqah, yang merupakan gabungan atau perpaduan antara sifat adil dan dhabit.

Untuk mengetahui lebih lanjut penelitian sanad, maka akan dikenal sebuah cabang ilmu Musthalah hadis yang bernama Jarh dan Ta’dil. Ilmu jarh dan ta’dil ini merupakan sebuah ilmu yang membahas mengenai pendapat atau penilaian ulama terhadap perawi. Jarh sebagai penilaian yang buruk, sementara ta’dil kebalikan dari jarh ialah pendapat yang baik baik, bisa jadi dalam bentuk sanjungan, dan lain sebagainya.

Jadi, ketika membahas mengenai syarat syarat seorang perawi, maka tidak akan lepas dari jarh dan ta’dil, serta tidak terlepas juga dengan kitab rijal, atau kitab para perawi. Karena, di dalam kitab rijal atau kitab perawi-perawi tersebut akan didapatkan satu paket lengkap mengenai diri dari seorang perawi.

Mulai dari nama lengkap perawi tersebut, nama nama gurunya, nama nama muridnya, kualitas dirinya, seperti penjelasan di atas, jika dia adil dan dhabit, maka akan disebut tsiqqah, dan tidak terlepas juga ialah jarh dan ta’dil para ulama terhadap diri seorang perawi. 

Mengenai kitab untuk melihat dan mengetahui kualitas seorang perawi, akan dibahas pada artikel selanjutnya. 
insyaAllah.


Akan dibahas mengenai nama kitab, beserta bagaimana cara menggunakannya. 

Referensi : ulumul hadis praktis dan mudah, Muhammad Gufran dan Rahmawati.
Ulumul hadis studi kompeksitas hadis nabi, Mahmud Thahan.
37 Masalah popular, Abdul Shamad.


  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Cara Meneliti Sanad Hadis (2) Rating: 5 Reviewed By: Anita aa