728x90 AdSpace

Latest News
Thursday, April 26, 2018

Cara Mengatasi Hipertermia pada Bayi


Lingkungan yang sangat panas ternyata berbahay untuk bayi. Keadaan ini dapat dikatakan berbahaya apabila bayi diletakkan dengan sumber panas, baik pada ruangan yang mengandung udara sangat panas maupun karena terlalu banyak lapisan pakaian bayi, dan bahan selimut yang panas. 


Maka, melihat tinjauan teori di atas, dapat disimpulkan bahwa suhu tubuh bayi yang sangat tinggi yang bukan disebabkan oleh mekanisme pengaturan panas hipotalamus merupakan sebuah penyakit bernama Hiperternia. Pada beberapa artikel yang lewat, ada sebuah penyakit yang bernama Hipotermia. Nama kedua penyakit ini hampir sama. 


Penanganan hipertermia pada bayi yang baru lahir (neonatus) dapat dilakukan dengan memindahkan bayi ke ruangan yang sejuk dengan suhu kamar antara 26 – 28 derajat.  Tubuh bayi, dapat diseka dengan kain yang basah sampai tubuh bayi kembali normal.

 Yang pelru diingat ialaha membasahkan kain sebagai seka tidak diperbolehkan menggunakan es.  Dapat juga dengan memberikan cairan dekstrose secara intervena sampai dehidrasi bayi teratasi, dapat memberikan antibiotika apabila terjadi infeksi. 


Secara sederhana, hipertermia dapat dikatakan sebagai sebuah keadaan di mana bayi memiliki suhu tubuh di atas 38 derajat, pengukuran dengan aksila. 

Biasanya, hipertermia ini diakibatkan oleh faktor lingkungan, mulai dari kurangnya pentilasi, cuaca di luar sedang sangat terik, ruangan yang berukuran sempit atau cahaya yang masuk ke dalam ruangan sangat berlebihan tetapi hal tersebut juga dapat menjadi tanda-tanda klinis demam yang diakibatkan oleh bakteri, luka pada otak, atau bisa juga terapi obat hipertermia, interus, dan apneu kronis. 


Ciri – ciri yang dapat dilihat dari seorang bayi yang terkena hipertermia ini ialah : anak bayi tersebut tampak sangat gelisah, kulitnya mulai memerah atau mulai melegam dari kulit sebelumnya, berkeringat di hampir seluruh tubuh, mulai dari dahi, kepala, dan ketiak. 


Bajunya tampak basah, kulit di bagian tubuhnya telrihat kering, bibirnya ikut mengering. Jika infant sangat panas, maka pipinya akan memerah mengkilat. 
Seperti telah saya singgung sedikit di atas, bahwasanya antara kedua penyakit, yakni antara hipotermia dengan hipertermia adalah dua penyakit yang sama-sama merugikan. Bayi akan berusaha untuk mengatur temperature tubuhnya dengan cara meningkatkan kecepatan respirasinya. 


Maka, berikut ini beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi hipertermia. Di antaranya ialah : 


Menjauhkan anak dari sumber panas, mendinginkan suhu ruangan, apabila sedang berada di bawah terk mentari, maka harus bersegera mencari tempat yang teduh. 

Apabila sedang berada di ruangan yang ventilasi udaranya tertutup atau kurang, maka bawa anak keluar ruangan, misalnya ketika berada di dalam mobil yang tidak berpendingin udara.


Dengan melepaskan selimut yang digunakan bayi. Bayi juga sebaiknay tidak dibedong, karena takut apabila terlalu sering dibedong, maka akan terbiasa, dan ketika bayi sudah terbiasa, ketika bedongannya dilepas, ia akan kedinginan dan menggigil. Ibu harus waspada apabila suhu meningkat, karena itu pertanda demam. 


Pakaikan bayi dengan pakaian yang sesuai dengan iklim tropis, misalnya ialah katun atau bahan lain yang dapat menyerap keringat. 

Langkah terakhir ialah dengan mengukur suhu tubu anak dengan menggunakan alat (thermometer). 

Apabila hasilnya menunjukkan angka 36 – 37 derajat, itu menandakan bahwa anak masih dalam keadaan normal, sementara jika lebih dari 37 derajat, maka anak sudah menderita demam tinggi, apabila lebih dari 40 derajat ke atas, maka anak sudah menderitahipertermi. 


Maka, perhatikanlah suhu tubuh anak, dan tempat-tempat di sekitarnya. 

cara-mengatasi-hipertermia-pada-bayi



Gambar : Google
Referensi :
Ai Yeyeh, dkk. Asuhan neonatus, Bayi, dan anak balita. 
Dwi Maryanti, dkk. Buku Ajar Neonatus, Bayi, dan Balita.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Cara Mengatasi Hipertermia pada Bayi Rating: 5 Reviewed By: Anita aa